Senin, 12 November 2012

DISORIENTASI 1


DISORIENTASI
Lantas bagaimana mungkin ada perasaan keterpaksaan dari seseorang ketika berproses dalam organisasi? Padahal pada asasnya organisasi sangat membantu bagi seseorang yang hendak mewujudkan kepentingannya. Analisis saya, keadaan seseorang yang demikian disebabkan karena adanya disorientasi organisasi. Yaitu adanya ketidaksamaan antara kepentingan individu dengan kepentingan organisasi.
Pada suatu kasus, ada saja seseorang yang “salah kamar”. Yaitu minat seseorang itu ternyata tidak sama dengan tujuan organisasi. Tujuan organisasi tersebut memang tidak dapat mengakomodir minat seseorang itu. Semisal ada orang yang memiliki minat pada bidang seni musik. Lalu ia memasuki organisasi di bidang pecinta alam. Harapannya untuk dapat mengembangkan diri dalam seni musik kemungkinan akan sirna di organisasi tersebut, karena memang organisasi tersebut tidak bergerak di bidang seni musik. Jika seseorang tersebut diteruskan berproses disana, maka yang ada ialah kekecewaan yang akhirnya akan menjalani organisasi dengan rasa terpaksa.
Disorientasi ini juga disebabkan oleh suatu hal. Menurut Firmanzah, ada dua karakteristik pemilih, yakni rasionalitas dan tradisionalitas. Rasionalitas menurutnya ialah tipe pemilih yang mengedepankan hal-hal yang dapat diukur, dipertanggungjawabkan, dibuktikan secara empiris dan logis. Semakin kalkutatif dan memaksimalisasi kepentingannya, semakin rasional pula individu tersebut. Sedangkan tradisionalitas ialah tipe pemilih yang mengedepankan hal-hal seperti figurisme, kultus, ikatan emosional, mitos, simbol, dan takhayul. Tradisionalitas sangat berkebalikan dengan rasionalitas. Tapi bukan berarti dua ciri ini merupakan pilihan yang mutlak. Artinya tidak ada yang seratur persen rasionalis dan begitu pula dengan tradisionalis, yang ada hanya kecenderungan. Kaitannya dengan permasalahan ini, menurut penulis perasaan keterpaksaan dari seseorang ketika berproses dalam organisasi disebabkan terlalu besarnya kecenderungan tradisionalitas seseorang.
Tradisionalitas, bagaimanapun memiliki kelemahan. Semisal pada figurisasi. Acapkali seseorang berproses di suatu organisasi karena figur tertentu yang membuat dirinya bertahan di organisasi tersebut. Namun bagaimana jadinya bila figur itu kelak tidak ada atau tidak lagi bisa memfigurkan diri? Karena dalam organisasi, figur tidaklah abadi, pasti kelak eranya bisa habis. Dampaknya ialah seseorang tersebut merasa kehilangan seorang figur, sehingga ia kehilangan “pegangan” dalam organisasi. Contoh lain juga pada ikatan emosional. Ketika seseorang merasa nyaman dalam organisasi, maka ia akan perjuangkan betul organisasi. Namun keadaan berbalik ketika ia merasa kecewa pada suatu organisasi, maka bukan tidak mungkin ia meninggalkan organisasinya. Rasa sakit pada sisi emosional ini merupakan luka psikis, yang mana tidak mudah dan tidak cepat pula untuk bisa menyembuhkannya. Dalam hal ini penulis bukan berarti menolak segala bentuk tradisionalitas. Akan tetapi jika kita memandang suatu organisasi, tidak dapat dipungkiri kecenderungan terbesar ada di rasionalitas. Ferdinand Tonnies mengklasifikasikan masyarakat menjadi dua, yakni Gemeinschaft dan Gesselschaft. Istilah lain dari Gemeinschaft ialah paguyuban, yang memiliki pengertian suatu bentuk kehidupan bersama dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. Contohnya ikatan tetangga, keluarga, marga, dan lain sebagainya. Sedangkan Gesselschaft istilah lainnya ialah patembayan, yang memiliki pengertian suatu bentuk ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu pendek, bersifat sebagai bentuk dalam fikitan belaka (imaginary) serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan dengan sebuah mesin. Contohnya hubungan perdagangan, perusahaan, organisasi, dan lain sebagainya. Sisi rasionalitas organisasi, orientasi kepentingan, ikatan lahir, dan strukturalistik dalam organisasi ternyata membuat organisasi masuk pada kategori Gesselschaft. Dapat disimpulkan organisasi adalah masyarakat yang memiliki kecenderungan rasionalitas. Lain halnya dengan Gemeinschaft yang memiliki kecenderungan tradisionalitas.
Selain pada kecenderungan tradisionalitas seseorang, menurut penulis disorientasi ini juga disebabkan oleh tidak sadarnya seseorang terhadap tujuan organisasi. Simpelnya, bayangkan jika ada sebuah bis pariwisata yang berisi supir yang membawa seratus penumpang. Namun baik supir maupun penumpang tersebut tidak tahu hendak kemana tujuan wisata bis pariwisata tersebut. Apakah ke gunung, pantai, kota, ataupun desa. Yang terjadi ialah sebuah kebingungan, dan kebingungan membawa kesesatan.
Dampak dari disorientasi ini akan berimbas kepada organisasi dan individu yang bersangkutan. Bagi organisasi, hal ini akan menyebabkan tujuan organisasi tersebut dimungkinkan tidak tercapai. Bagi individunya, hal ini akan menyebabkan dimungkinkan tidak tercapainya kepentingan individu tersebut.
Atas dasar uraian di atas , ada beberapa alasan untuk mepelajari organisasi secara formal :
1.    Organisasi adalah suatu bagian dasar keberadaan kita,yang mencangkup seluruh aspek masyarakat sekarang. Kompleksitas kehidupan moderen mebuat kita semua tergantung pada berbagai organisasi. Tidak menjadi persoalan dari mana  kita memandang organisasi,kita adalah objek dan subjek pengaruhnya.ini sendiri merupakan justifikasi usaha kita untuk mempelajari organisasi.
2.    Dengan mempelajari organisasi kita dapat secara lebih baik mengembangkan pemahaman kita terhadapat bebagai organisasi beroperasi dan banyak cara dengan mana organisasi dapat dirancang atau disusun.pengetahuan tentang hal ini tentu saja sangat di perlukan bila kita akan menghadapi tantangan perancangan organisasi yang sedang berkembang.
3.    Studi organisasi mempunyai nilai praktis yang sangat besar baik untuk para manajer sekrang maupun masa depan. Pengetahuan tentang bagaiman organisasi befungsi meningkatkan kemampuan kita untuk mengantipasi berbagai masalsah yang mungkin kita hadapi dalam pekerjaan dan pada saat yang sama,meperbesar probalitas keberhasilan kita dalam situasi tersebut
4.    Bagi semua pembaca,baik yang masih berkecimpung dalam penidikan, maupun yan g brkecipung dalam dunia bisnis,pemerintah ,atau pelayanan kesehatan, studi mengenai organisasi fomal memberikan kesempatan penting tuk mempelajari keterampilan –keterampilan tertentu yang akan terbukti sebgai suplemen vital pada pengalaman yang akan di peroleh dari praktek.


DEFINISI ORGANISASI (PERUSAHAAN)
Organisasi sering di artikan sebagai kelompok orang yang secara bersama sama ingin mencapai  suatu tujuan yang sama.organisasi mempunyai pengertian lebih luas dari pada itu.ernest dale meliputi penyusunan, pengembangan dan pemeliharaan suatu struktur atau pola hubungan-hubungan kerja dari orang-orang dalam suatu kelompok kerja . jadi, organisasi juga merupakan kumpulan dari peranan, hubungan dan tanggung jawab yang jelas dan tetep, paling tidak dalam waktu jangka yang pendek. Organisasi di susun tidak hanya mengatur orang-orangnya,tetapi juga membentuk dan modifikasi sruktur dimana di dalamnnya tersusun tugas orang-orang tersebut. Di sini berarti harus ada pembagian peranan untuk mencapai suatu tujuan tertentu secara bersama- sama. Cyril soffer memberi definisi  organisasi yang memperjelas masalh tersebut : organisasi adalah perserikatan orang-orang  yang masing-masing diberi peranan tertentu dalam suatu sistem kerja dan pembagian kerja dalam mana pekerjaan itu diperinci menjadi tugas tugas, di bagikan di antara pemegang peranan dan kemudian digabung ke dalam beberapa bentuk hasil (organisasi sebagian suatu sistem peranan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar